BELAJAR KESANTUNAN DARI MBAH CIPTO

TALBIA “Alhamdulillah. Alhamdulillah,” tutur Mbah Cipto di dalam mobil Hiace yang membawanya ke penginapan 801. Wajahnya sumringah, mulutnya tertawa lebar tanpa suara berlebihan memamerkan giginya yang sudah banyak tanggal.

Dengan suara pelan tapi tenang, Mbah Cipto dari Sidomukti, Kebumen, Jawa Tengah, itu menanggapi setiap candaan petugas Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Daker Makkah yang menemaninya.

Mobil yang mengantar Mbah Cipto berhenti di depan Lobby Hotel Al Jawharah Tower. Dari arah lobi keluar seorang pria yang berasal dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) tempat Mbah Cipto bernaung. Kala itu jam menunjukkan pukul 09.30.

Petugas PPIH meminta agar KBIH menjaganya Mbah Cipto agar tidak terpisah lagi saat ibadah di Mekkah. Mbah Cipto tidak langsung melepas tangan petugas yang mencium tangannya. Dia balik mencium tangan petugas itu. “Suwun (terima kasih),” ujarnya pelan sambil berlalu masuk ke penginapan yang menampung 21.600 jemaah itu.

Pertama kali petugas PPIH bertemu kakek berusia sekitar 80 tahun itu tiba di kantor Daker Makkah sekitar pukul 8.30 waktu setempat. Dengan diantar pengemudi taksi, setelah menunaikan umrah qudum, Mbah Cipto tidak mengenakan tanda pengenal seperti gelang haji atau membawa kartu hotel.

Dia hanya membawa buntelan ungu berisi kain ihram bagian bawah. Sedangkan dia hanya mengenakan pakaian celana panjang 3/4 dan ihram bagian atas saja. Dengan dibimbing petugas PPIH, Mbah Cipto dibimbing masuk ke dalam kantor untuk istirahat sekaligus dibantu mencari tempat penginapannya.

“Cipto. Cipto Miarso bin Atmo Sentono,” tuturnya pelan saat ditanya nama lengkapnya oleh petugas.

Di sabuk haji yang dia kenakan hanya terdapat uang 10 riyal. Satu petunjuk utama untuk mencari rombongan Mbah Cipto adalah pembungkus buntelan yang berisi tulisan Mabiha, Kebumen, Jawa Tengah. Mabiha belakangan diketahui adalah kepanjangan dari KBIH Majelis Bimbingan Haji Al Huda yang berkantor di Jetis, Kebumen.

Sambil menunggu, petugas PPIH menyuguhi Mbah Cipto dengan teh hangat, sarapan nasi, dan air putih. Saat diberi ransum sarapan, Mbah Cipto tidak langsung memakannya. Dia justru menawarkan ke beberapa petugas yang berada di sekitarnya.

Begitu juga saat Mbah Cipto disuguhi kurma 3 butir. Dia hanya makan satu butir, sisanya ditawarkan ke petugas lainnya. Ketika tidak ada petugas mau, dia memasukkan sisa kurma ke tempat ransum sarapan tadi yang hanya dimakan satu sendok saja.

Saat diberi minuman teh hangat, Mbah Cipto juga hanya menyeruput sedikit. Seorang petugas yang mengajak komunikasi dengan bahasa Kebumen mengatakan kalau Mbah Cipto tidak enak hati minum sendiri. Dia meminta supaya petugas juga minum.

“Lho sampeyan unjukane pundi (minum kamu mana),” kata Mbah Cipto dengan logat daerahnya yang kental.

Salah seorang petugas memberi Mbah Cipto dengan roti supaya energinya pulih. Saat diberi potongan kecil, Mbah Cipto tidak langsung memakannnya. Dia baru mau makan ketika petugas yang memberi roti itu ikut makan. “Sopan sekali,” tutur petugas PPIH Khoiron.

“Enak Mas,” kata Mbah Cipto saat kedua pundaknya dipijit-pijit kecil. Namun itu tidak berlangsung lama, dia langsung menyergah petugas itu karena takut kecapekan.

Mbah Cipto tidak mau ada orang yang berbicara dengannya sambil berjongkok. Dia akan meminta orang itu berdiri atau duduk di sampingya. Saat berjalan ke WC karena hendak kencing, Mbah Cipto sempat berhenti di dekat tempat sampah untuk membuang plastik rotinya ke situ.

Seperti yang sering dialami jemaah lansia, Mbah Cipto seperti mengalami disorientasi. Beberapa kali Mbah Cipto diberi tahu kalau saat ini dirinya sedang di Mekkah sedang berhaji. Meskipun terpisah dari rombongannya, Mbah Cipto tidak terlihat khawatir. Justru sebaliknya, beberapa kali Mbah Cipto tersenyum diajak bercanda oleh petugas.

Setelah berupaya kurang lebih 1 jam, petugas PPIH akhirnya menemukan tempat penginapan Mbah Cipto. Sambil berjalan perlahan dengan sandal jepit barunya dan dipapah petugas. Tubuh yang sudah membungkuk itu menghilang seiring dengan ditutupnya pintu mobil yang mengantar Mbah Cipto ke penginapannya.

Walau cuma bersentuhan dengan Mbah Cipto kurang lebih 2 jam, sopan santun yang dimiliki kakek itu seolah menunjukkan citra jemaah haji Indonesia di mata dunia. Jemaah yang sopan, santun, penurut, dan tidak rewel.(metronews)

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.