CAHAYA DITENGAH JIHAD HAJI

TALBIA – PKSPIYUNGAN. Di tengah suasana jihad dalam ibadah haji dan setelah satu episode “pergulatan” melawan paparan terik mentari dan kondisi berdesakan yang menguras tenaga lelaki dewasa, apalagi wanita dan orang tua yang lemah.. Di dalam suasana itu aku duduk di dekat dua orang yang terlihat letih seperti yang kualami.

Setelah berbincang tentang kewajiban ibadah haji aku tahu ternyata salah seorang diantara mereka berdua datang dari Amerika bukan berhaji untuk dirinya, tapi ia melakukan badal haji (badal haji = berhaji untuk orang lain) untuk Ibnu Hazm Az-Zhahiri (Ulama madzhab Zhahiri yang hidup abad ke-4 hijriyah, lahir dan wafat di Andalusia).

Aku bertanya kaget: Ibnu Hazm Az-Zhahiri?! Ia menjawab: Ya, saya membaca bahwa beliau belum pernah haji selama hidupnya, maka saya memutuskan untuk melaksanakan badal haji untuk beliau karena ilmu dan keutamaan beliau.

Kemudian laki-laki satunya yang duuk di sampingku berkata: Sungguh teramat mulia apa yang kau lakukan, tokoh-tokoh besar itu begitu banyak jasa mereka di atas pundak, semoga Allah membalas kebaikan mereka kepada kita dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Laki-laki yang lain berkata: Dan saya datang dari Inggris untuk melaksanakan badal haji utk Asy-Syahid Sayid Quthb, karena saya tahu beliau telah dipenjara selama 15 tahun, kemudian dikeluarkan sebentar untuk dimasukkan lagi ke dalam penjara kemudian dihukum mati dan belum sempat melaksanakan haji. Maka sebagai bentuk kesetiaan terhadap ilmu beliau, jihad beliau di jalan Allah, juga pengakuan atas kebaikan yang telah beliau persembahkan untuk kaum muslimin secara umum dan untuk saya secara khusus, saya menghadiahkan haji saya ini untuk beliau.

Aku berkata: Aduhai sungguh besar gunung kesetiaan dan ukhuwah kalian. Keikhlasan teramat besar ini sudah jarang ditemukan saat ini kecuali pada diri orang-orang beriman yang mengetahui dan menghargai keutamaan orang lain:

إنما يَعرِف الفضلَ لأهل الفضل ذَوُوْهُ

“Yang tahu keutamaan orang lain hanyalah para pemilik keutamaan.”

Karena iman adalah rahim yang melahirkan orang-orang mukmin dan ikatan yang menghubungkan mereka yang menembus batas waktu dan tempat.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Ya Tuhan kami ampunilah dosa kami dan dosa orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman. Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Al-Hasyr: 10)

Dr. Taufiq Yusuf Al-Wa’i
(dari buku Az-Zhahirah Al-Islamiyah Wal Qira’ah Al-Fikriyah Lin Nahdhah Al-Islamiyah)

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.