TADABBUR SURAT AL-HAJJ AYAT 11

Tadabbur Surat Al-Hajj Ayat 11
Oleh Ust Khairan Arif (khairan_arif72@yahoo.com)

Allah berfirman:
“Diantara Manusia, ada yg menyembah Allah sekedar ritual/formalitas saja, bila dia mendapat suatu manfaat (dari ibadahnya) dia merasa puas, namun bila dia ditimpa ujian/fitnah dia berbalik menjadi kafir, orang ini merugi di dunia dan akhirat, itulah kerugian yg sangat besar” (Al-Haj:11)

Ayat ini adalh salah satu dari pesan penting surat Al-haj mengenai hikmah perintah ibadah haji, bahwa tujuan ibadah haji diantaranya adalah membersihkan iman yg bersifat pragmatis dan ibadah ritual formalitas, menjadi iman yang hakiki dan ibadah sejati.

Allah menjelaskan bahwa orang yg beribadah formalitas dalam bentuk shalat yg tidak khusyu’, tilawah Al-qur’an tanpa tadabbur dan menghadirkan hati, infak untuk meraih popularitas, zikir yang riya’, dan semua ibadah yg sekedar ritual tanpa hati adalah ibadah yg tidak dapat membentuk karakter dan integritas dalam diri seseorang, ibadah model ini hanya melahirkan pribadi-pribadi cengeng, pengeluh, penakut, pesimis, pengecut dan oportunis yang tidak mampu memikul beban hidup dan ujian dari Allah swt.

Sebaliknya ibadah khusyuk yang menghadirkan hati dan akal serta ibadah yg menjadi sarana “audiensi” antara hamba dan sang khaliq adalah ibadah sejati dan subtantif, ibadah seperti inilah yg dimaksud oleh Fudhail ibnu Iyadh ketika ditanya tentang ibadah terbaik beliau menjawab “ibadah yg ikhlas dan sesuai syariat”.

Seorang Abid (Ahli Ibadah) sejati adalah mereka yg selalu merindukan untuk sujud di sajadahnya, selalu merindukan waktu-waktu tahajjudnya, selalu mendambakan saat-saat munajatnya, Seorang Salafus shaleh berkata ketika ditanya apakah yg paling dia tidak sukai didunia ini, beliau berkata: “Satu yang paling aku tidak sukai di dunia ini adalah ketika fajar menyingsing, karena bila terbit fajar, maka tahajud dan munajahku pada Allah akan terputus”.

Ibadah seperti inilah yg akan melahirkan hal-hal berikut:

  1. Melahirkan “Rijal”, ibadah seperti inilah yg memproduksi para Ulama dan para pemimpin abadi, Imam Hasan Al-banna’ berkata; “jadilah kamu ahli ibadah sebelum menjadi qiyadah, dengan ibadah yg baik akan mengantarkanmu kepada kepemimpinan”.
  2. Ibadah sejati dan terbaik melahirkan para pejuang sejati, prajurit pemberani, kader “militan” tak takut mati, mereka menyambut panggilan jihad seperti menyambut panggilan adzan, mereka rindu hadir dalam shaf peperangan seperti kerinduan mereka pada shaf-shaf shalat berjama’ah, ibadah seperti ini mengubah hati pengecut menjadi pemberani, hati oportunis menjadi hati yang tsabat, hati “pencuriga” menjadi hati yang tsiqoh, hati yg pelit menjadi hati yg penuh pengorbanan dsb.
  3. Ibadah sejati dan khusuk melahirkan para perindu syahid dan surga. Bilal bin Rabah (yg disebut Rasulullah saw terompahnya telah masuk surga sblm beliau wafat karena shalat wudhu) pada detik-deti sakaratil maut, beliau terseyum penuh kebahagiaan, para sahabat yg menjenguk bertanya: “mengapa engakau tersenyum hai Bilal padahal sakitmu sangat kritis? Bilal menjawab: “Bagaimana aku tidak gembira,,besok aku akan bertemu orang yang paling aku cintai (Rasulullah saw).

Sebaliknya Ibadah sebatas ritual dan formalitas akan melahirkan:

  1. Rasa berat dan mudah jenuh, orang model ini menganggap ibadah adalah beban dan buang-buang waktu, mereka mendengar suara azan adalh suara pengganggu, shalat jama’ah adalh kesia-siaan, mereka berinfak dengan terpaksa, semua ibadah serba berat dan terpaksa, Allah menjelaskan karakter org ini dengan berfirman “Mereka mendatangi shalat dgn rasa malas dan berinfak penuh kebencian dan penyesalan” (Attaubah:54)
  2. Bila diseru untuk berjihad dijalan Allah, mereka cerdas berapologi, bila diajak berdakwah, maka mereka “mutafannin” (menguasai seni) untuk mencari alasan menghindar dan menjust sikap penolakannya. Allah menceritakn karakter ini dgn berfirman “Mereka berkata: “seandainya hasil jihad itu mudah didapatkan dan perjalanan menuju jihad itu pendek, kami akan mengikutimu hai Muhammad, tetapi perjalalanannya jauh dan sulit bagi kami dan mereka bersumpah dgn nama Allah bahwa bila jihad itu rasional kami akan mengikutimu..dan Allah maha mengetahui bahwa mrk adalh pendusta”(Attaubah: 42)
  3. Ibadah dan pekerjaan yang paling mereka sukai adalh ibadah dan kerja-kerja populis dan pencitraan, mereka tdk tertarik dgn ibadah tersembunyi dan kerja yg menyentuh langsung hajat masyarakt tanpa implikasi citra dan popularitas. “Bila engkau melihat mereka, maka engkau akan merasa kagum kepada mereka secara fisik” (Al-Munafiquun;4).
  4. Rasa takut dan rasa lemah terhadap tantangan dan fitnah dlm dakwah. Ketakutan ini kemudian membuat mereka mundur kebelakang, enggan tampil membela kebenaran, bila penguasa, musuh dan kompetitor dakwah “memusuhi” dakwah, bahkan lebih parah lagi ketakutan ini melahirkan kecurigaan dan ketidak tsiqohan terhadap qiyadah dakwah. Allah swt mensinyalir model org ini dgn firmanNya: “Mereka takut kepada manusia seperti takutnya mereka kepada Allah” (An-nisa: 77).

Itulah karakter orang-yang beribadah secara “harf” ritual dan formalitas semu, tanpa menghadirkan hati mereka dlm ibadah, tidak ikhlas dlm ibadah, tidak mengharapkan perjumpaan dgn Allah ketika menyembah Allah swt. Wallahu a’lam bishawab.

INFORMASI LENGKAP

Rizki Wahyu
HP: +6283814501168
BB pin:25AA5CB3
Twitter: @talbiaumroh
Email: rizki.wahyu83@gmail.com
Web: www.talbia.net

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.