kehidupan keraton jogjakarta

Berbarengan kekuasaan Majapahit surut, maka ajaran Islam di Pulau Jawa makin tersebar luas. Tak hanya merembes di kalangan rakyat biasa, para pemimpin kerajaan setelah itu memeluk agama Islam. Bahkan tak segan, seperti kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram mereka menyatakan diri sebagai ‘balad’ (negara Islam).

Seiring dengan itu, maka satu persatu orang dari kepulauan Nusantara pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Tercatat Sunan Gunung Jati adalah orang pertama yang berangkat dari Jawa ke Makkah. Kepergian ini dilakukan pada awal akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1500-an atau juga pada masa awal pendirian Kerajaan Islam Demak.

Tak hanya sebagai pusat ritual ibadah haji, pada saat itu posisi Makkah secara berangsur-angsur menjadi pusat perhatian, baik yang sifatnya keilmuan hingga sarana legitimasi politik. Kebetulan pula Makkah saat itu berada dibawah kekuasaan ‘super power ‘ dunia abad pertengahan Turki Usmaniyah (Ottoman).

Sedangkan ‘orang Jawa’ yang pertama kali berangkat ke tanah suci Makkah tercatat diantaranya adalah utusan Pangeran Rangsang dari Kraton Mataram yang saat itu pusatnya masih berada di Kota Gede (kota kecil di selatan Yogyaakrta). Kelak ketika naik takhta pangeran ini kemudian dikenal sebagai Sultan Agung.

Kepergian mereka ke Makkah diperkirakan terjadi pada tahun 1620-an. Namun kepergian mereka sebenarnya merupakan rombongan resmi kenegaraan yang kedua, setelah sebelumnya rombongan asal Kerajaan Banten mendahuli kepergian mereka.

Apa tujuan kepergian mereka ke Makkah? Jawabnya, selain untuk menunaikan ibadah haji, utusan tersebut juga hendak meminta izin untuk memakai gelar ‘Sultan’ di depan nama atau gelaran raja mereka. Selain itu juga diindikasikan kepergian mereka untuk menemui ‘syarif Makkah’ adalah untuk meminta ‘perlindungan’ bahwa mereka itu adalah mitra atau bahkan sekutu dari imperium Ottoman Turki (Turki Usmani).

Dan ketika balik, selain membawa oleh-oleh tanah pasir gurun yang ada di Makkah, rambut nabi, bendera kerajaan Ottoman, mereka pun mendapat restu dari ‘Syarif Makkah’ untuk memakai gelar Sultan di depan nama rajanya. Maka mulai saat itu gelar Raja Mataram memakai nama Sultan, atau tak lagi menggunakan gelar Sunan (Susuhunan) seperti gelar raja pada era Majapahit.

Kenyataan sejarah itu sejalan dengan isi pidato Sultan Hamengku Bawono ke X saat membuka Konggres Umat Islam pada awal Februari  2015. Pada forum itu Sultan menegaskan kembali soal kaitan Kraton Yogyaarta dengan Kerajaan Turksi Usmani dan juga kaitan orang dari Kraton Jogjakarta yang dibiayai pergi ke Makkah atas restu Sultan Yogyakarta.

‘’Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya kini tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki,’’ kata Sultan.

Soal kebiasaan Kraton mengirimkan abdi dalemnya pergi haji ke Makkah yang juga dilakukannya hingga pada ‘masa moderen’, Sultan menyatakan:

’Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa keberangkatan KH Ahmad Dahlan, yang saat itu adalah abdi dalem Kraton, justru atas dorongan dan dukungan Sri Sultan HB VII. Bakda membaca dalam “Tafsir AL Manaar” karya Abduh, pada 1912 ia pun mendirikan perserikatan Muhammadiyah di Yogyakarta.’’

Tak bisa dibantah memang ajaran Islam begitu melekat di kalangan punggawa kraton Mataram. Apalagi semenjak didirikan para bangsawan dan para raja kerajaan tersebut menjadikan pesantren sebagai sumber utama pendidikan mereka.

Raja Paku Buwono IV misalnya adalah raja yang ulama. Bukan hanya rutin menjadi pemberi khotbah Jumat di masjid kraton, Paku Buwono IV malah setiap harinya selalu mengenakan gamis seperti yang sering dipakai para haji atau ulama.

Sedangkan salah satu pangeran yang  secara khusus menyatakan diri ingin naik haji adalah Pemimpin Perang Jawa: Pangeran Diponegoro. Bahkan, ‘pangeran santri’ ini tak hanya ingin pergi berhaji ke Makkah, dia juga  ingin tinggal menetap di tanah suci serta mengakhiri hidupnya di sana.

Sejararawan Inggris yang menuis dan meneliti tentang sosok Pangeran Diponegoro, Peter Carey, dalam bukunya ‘Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855’ menyataan keinginan untuk naik haji itu maulai dinyatakan Diponegoro pada masa akhir perang Jawa, yakni di akhir tahun 1829.

‘’Niat (Pangeran Diponegoro) untuk naik haji muncul pada episode akhir perang Jawa. Ia sepertinya merencanakan ‘purnawira (pensiun dari dunia militer,red) dengan cara tinggal di Makkah,’’ tulis Peter Carey.

Tak hanya itu, sosok atau profil seorang haji juga menjadi pembawa spirit  Diponegoro ketika menyerukan perang Sabil melawan kolonial Belanda. Dalam ‘pertemuan rohani’ ketika menyepi di gua-gua di sekitar Yogyakarta, Diponegoro dijemput secara gaib oleh seseorang yang mengenakan pakaian haji. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 Ramadhan pada tahun-tahun menjelang  (16 Mei 1825) Perang Jawa berkobar. Sosok haji gaib inilah yang kemudian disebut sebagai penampakan dari Ratu Adil.

Ratu Adil yang berbentuk seorang haji membisikan kepada Diponegoro agar sebagai Muslim Jawa menjunjung kemuliaan agama Islam di Jawa dan melaksanakan tugas sebagai ratu panateg panatagama  (seorang raja yang akan berdiri sebagai ‘penata agama’).

Obesesi  Pangeran Diponegoro untuk berhaji dan tinggal di Makkah tampak pada beberapa peristiwa ketika pangeran ini menjalani masa awal penangkapan, berlayar menuju tanah pengasingan, dan tinggal di pembuangan.  Catatan komandan tentara De Stuers melaporkan betapa pangeran itu pergi berangkat ke pengasingan dengan tetap memakai pakaian ala ulama atau haji:

‘’Diponegoro tampak senang mengamati banyak orang di dermaga. Karena rasa ingin tahu ia menutupi muka dengan ujung sorbannya, yang justru membuat kerumunan merasa lebih tertarik kepadanya…’’

Bahkan guna menunjang semangatnya, Diponegoro sempat  meminum sebotol air zamzam yang diberikan kepadanya di Magelang oleh seorang haji yang baru kembali dari tanah suci. Menurut Dipongero: air ini (zamzam) yang diminum para Muslim terkemuka yang telah memahami rahasia agung ajaran agama Rasul.

Selama dalam perjalanan menuju tanah pengasingan, di atas kapal dari Semarang ke Jakarta, Diponegoro selalu menuntut hak atas kepastian di mana dia akan diasingkan.”Orang tahu bahwa saya ingin mendapat kepastian mengenai hak-hak legal saya apakah akan dikirim ke Makkah atau ke tempat lain.”

Situasi yang sama juga ditunjukan ketika Diponegoro berlayar dari Jakarta menuju Manado (Sulawesi Utara). Sembari menunggu kapal melepas sauh, Diponegoro sempat berkata kepada ajudan militer Van den Bosch yang bernama Knoerle bahwa sesampai di Manado ia akan meminta uang dan kapal kepada Gubernur Jendral untuk pergi ke Makkah begitu kekuataannya pulih dan hatinya merasa tenang serta damai kembali. Dan keinginan pergi ke Makkah ia kerap tunjukan selama di atas kapal dengan meminta kapten kapal menunjukkan letak pulau-pulua sekaligus  jalur kapal menuju Jeddah.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.