TIPS BELANJA OLEH OLEH HAJI DI TANAH SUCI

TALBIA – MAKKAH.  Jamaah haji Indonesia sudah menyelesaikan ibadah hajinya dan sebagian sudah pulang ke Tanah Air.

Sebelum pulang ke Tanah Air, banyak jamaah yang berburu oleh-oleh khas Tanah Suci, sebagai buah tangan bagi keluarga, kerabat, tetangga atau teman-teman di kantor.

Cukup banyak pusat-pusat perbelanjaan yang tersedia di Makkah, Madinah maupun Jeddah.

Selain toko-toko yang buka terus sepanjang tahun, banyak pula toko-toko yang buka memang hanya pada musim haji saja.

Tidak sedikit pula pedagang kaki lima dadakan yang mencoba meraih untung dari kedatangan jamaah haji.

Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan oleh jamaah sebelum berbelanja berdasarkan pengalaman jamaah haji, petugas dan beberapa laman.

1. Buat perencanaan

Buatlah perencanaan belanja yaitu daftar barang yang diperlukan dan dibutuhkan.

Hal ini agar tidak berlebihan dalam belanja dan bisa disesuaikan dengan keuangan yang ada.

Jika ada barang-barang yang bisa dibeli di Tanah Air dan mungkin harganya lebih murah maka jamaah tidak perlu memaksakan diri, apalagi kini sudah banyak toko oleh-oleh haji di Indonesia.

“Banyak-barang lebih murah (di Indonesia). Kacang Arab dan peralatan minum warna emas lebih murah di Surabaya. Saya sudah telepon anak saya,” kata seorang jamaah asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang akan kembali ke Tanah Air pada Minggu (19/10).

2. Atur waktu yang pas
Jangan sampai kegiatan belanja justru mengganggu waktu ibadah. Untuk itu utamakan dulu melakukan ibadah.

Ingat sesungguhnya tujuan utama Anda berkunjung ke Tanah Suci yaitu untuk memanfaatkan waktu yang Anda miliki untuk giat beribadah demi memperoleh ridho dari Allah SWT.

3. Cari pusat perbelanjaan

Untuk memperoleh harga yang murah, tentu harus diketahui pusat-pusat perbelanjaan yang ada misalnya di Makkah ada Pasar Zakfariah, di Jeddah ada Pasar Balad dan Bab Makkah, dan di Madinah ada Pasar Kurma dan pusat pertokoan di basement Taiba Arac Hotel.

Namun demikian, jika malas pergi jauh, hampir di setiap penginapan jamaah haji banyak terdapat penjual oleh-oleh haji dadakan yang harganya juga hampir dengan di pusat-pusat perbelanjaan.

Tapi memang di pusat perbelanjaan, variasinya lebih banyak. “Pilihan lebih banyak,” kata anggoa Media Center Haji, Nazli, yang telah berbelanja di Pasar Zakfariah.

4. Siapkan uang riyal
Tentu saja untuk berbelanja lebih nyaman jika menggunakan uang setempat.

Selain bisa membawa dari Tanah Air maka jamaah bisa juga menukar uang rupiah maupun dolar menjadi riyal di “money changer” yang banyak tersedia di pusat berbelanjaan.

Tentunya harganya bisa lebih mahal dibanding di Tanah Air.

Hal ini mungkin juga karena saat musim haji, permintaan terhadap riyal semakin tinggi.

“Saya tukar satur dolar dapat 371 riyal. Tukar Rp1 juta dapat 300 riyal,” kata Neni yang menukar uang dolar dan rupiahnya.

Selain itu bisa juga mengambil uang dari ATM bank setempat dengan menggunakan kartu debet bank-bank Indonesia.

Kartu debet dan kartu kredit bank Indonesia tentu saja bisa juga digunakan di toko-toko yang sudah memasang alat untuk menerimanya.

Hati-hati, lebih baik ditanya dulu apakah dikenakan biaya tambahan atau tidak.

Sebagai contoh, di sebuah toko emas di Madinah, mengenakan biaya sebesar tiga persen dari harga jual.

Bahkan banyak toko yang juga mau menerima uang rupiah.

5. Berani menawar dan cek harga
Sebelum membeli hendaknya melakukan survei di beberapa toko untuk membandingkan harga, namun umumnya untuk barang-barang yang umum dibeli, harga tidak terlalu berbeda jauh.

Setelah ada barang yang diinginkan tidak ada salahnya menawar harga, apalagi jika ingin membeli barang dalam jumlah banyak karena biasanya diberikan harga khusus.

Untuk menawar barang tidak perlu khawatir karena Sebagian besar penjual atau penjaga toko di Tanah Suci mengerti bahasa Indonesia, bahkan tidak sedikit penjaganya adalah warga Indonesia.

Namun, jika terlalu “kejam” menawar jangan heran jika pedagang mangatakan “Bahil..bahil...” atau “Pelit..pelit”. “Saya sering dibilang bahil (pelit),” kata Umi Khalsum.

6. Hati-hati barang palsu

Banyak pula ditemui barang-barang palsu atau kualitas yang buruk. Sebagai contoh, salah satu barang yang sering dicari adalah tasbih dari kayu koka (konon tongkat kayu Nabi Musa dibuat dari kayu ini).

“Kayu koka adanya di Mesir. Jika ada yang menawar dengan harga murah maka keasliannya diragukan,” kata seorang tenaga musiman Furqon yang juga menawarkan tasbih dari kayu Koka.

Produk elektronik pun banyak ditemui seperti handphone.

Sebuah handphone Samsung S4 dan S5 ada yang ditawarkan dengan harga 600 riyal saja, namun kemudian bisa turun dengan harga 250 riyal, yang sangat tidak mungkin jika dibandingkan dengan perangkat asli.

Sedangkan bagi pria yang ingin membeli obat kejantanan “hajar jahanam” juga perlu hati-hati karena banyak yang diperkirakan palsu.

7. Batas maksimum barang

Perhatikan pula batas maksimum barang, jangan sampai membeli barang berlebihan hingga melebihi batas maksimum yang boleh dibawa dalam penerbangan.

Seorang penumpang hanya memperoleh jatah bagasi seberat 32 kg dan hanya satu tas kecil yang bisa dibawa ke dalam kabin. Jika kelebihan maka akan dikenakan tambahan biaya yang tidak sedikit atau terpaksa ada barang yang ditinggalkan.

Jika kelebihan berat maka barang bisa dikirimkan melalui perusahaan jasa pengiriman barang yang banyak beroperasi dan melakukan pelayan menjemput bola atau mengambil barang di tempat penginapan.

Perlu diperhatikan waktu sampai di Indonesia agar barang tidak terlalu lama datang setelah jamaah datang.

Biasanya lama pengiriman barang dengan pesawat adalah dua minggu.

Jika mendesak waktunya, maka barang yang dikirimkan lewat jasa pengiriman adalah pakaian atau barang lainnya yang sudah tidak digunakan.

Sisakan sedikit pakaian untuk sehari-hari atau pakaian yang sudah kita niatkan untuk ditinggalkan.

Selanjutnya oleh-oleh yang dibawa bersama jamaah dengan pesawat.(antara)

PENDAFTARAN HAJI & UMRAH

Rizki Wahyu
HP: +6283814501168
BB pin:25AA5CB3
Twitter: @talbiaumroh
Email: rizki.wahyu83@gmail.com
Web: www.talbia.net

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.